membaca adalah kunci pertama untuk mencapai kesuksesan. do the best!

Untuk Sahabat

Untuk Sahabat

by: rafif naufi waskitha hapsari

                Namaku Priscilla Annisa Putri, mngkin namaku tak seindah hidupku . aku dilahirkan oleh rahim seorang perempuan yang sangat menyayangiku. Namun, pada usiaku yang ke-12 tahun ibuku dijemput oleh sang pencipta aku sangat sedih, duka ku kian mendalam sampai akhinya aku sakit-sakitan. Ayahku pun bingung bagaimana cara menghiburku, karena semenjak kepergian ibuku itu aku jarang sekali keluar rumah bahkan hampir tak pernah tersenyum. Aku memang anak tunggal, tak punya kakak, tak punya adik, tak punya teman.

Penyakitku semakin parah, pada usiaku yang ke-14 tahun aku divonis dokter terkena penyakit kanker otak stadium akhir. Penderitaanku kin bertambah, dan aku merasa sangat kesepian aku merasa tidak ada keadilan di kehidupanku ini. Terkadang aku iri kepada orang lainyang dapat hidup sehat dan memiliki orangtua lengkap.

Aku kembali masuk rumah sakit setelah aku tak sadarkan diri dan mengeluarkan darah dari lubang hidungku. Saat itu aku sedang berjalan-jalan di taman dengan suster pibadiku, lalu aku melihat seorang gadis mungkin seusia denganku dia membawa tongkat, membawa bunga mawar. Lalu kudekati dia,

“Hai namaku Cilla, kenapa kamu membawa tongkat dan bunga mawar? Apa kau buta?”, tanyaku tanpa basa-basi.

“ya, aku buta. aku sangat suka dengan bunga mawar walaupun dia tidak begitu harum. Kata ibuku saat aku dilahirkan aku cantik seperti mawar, makanya aku sangat menyukai bunga mawar. Dan, jika aku bersama bunga mawar aku merasa dekat sekali dengan ibuku walaupun kedua orangtuaku telah tiada. Tapi aku senang Dr. frans mau mengadopsiku sebagai anak!”, jelas Mawar.

Tiba-tiba air mataku menetes, aku sadar selama ini aku salah. Aku selalu menyalahkan kehendak Tuhan. Aku berdosa. Tiba-tiba “bruuukkk…”, kepalaku terasa berat, hidungku terasa perih, pusing, mataku berkunang-kunang, badanku lemas aku terjatuh dan tersungkur ke tanah. Aku mendengar sedikit suster bingung meminta tolong epada orang yang ada disekitar empat kejadian.  Saat aku sadar, aku hanya melihat ayah, suster, Dr. frans dan Mawar sudah ada dismping kanan dan kiriku. Mata ayah terlihat sembab, seperti habis menangis.

“Apa kau baik-baik saja sayang?”, tanya ayah.

“Tentu aku baikbaik saja”, jawabku dengan senyuman.

“Apa kamu tidak keberatan kalo ayah tinggal, soalnya ayah harus berbicara dengan Dr. Frans dan ayah meninggalkan banyak pekerjaan di kantor”, tanya ayah.

“Silakan ayah, aku juga tidak mau terlalu banyak merepotkan ayah. Mulai sekarang aku harus bisa belajar mandiri karena aku sudah dewasa.”, jawabku tegas.

“Ya sayang. Tapi bagi ayah kau tetap malaikat kecilku yang cantik juga lucu!”, jawab ayah sambil memelukku lalu pergi meninggalkan ruanganku.

Ruanganku sepi, sunyi suster sedang sibuk membaca novelnya dan akhirnya Mawar angkat bicara untuk melepas kesunyian ni,

“Aku sudah tahu apa masalahmu, dan penyakitmu papa yang memberitahu,  kuatlah Tuhan tida akan memberikan coban diluar batas kemampuan manusia”, tukas Mawar religius.

“I believe it”, jawabku singkat.

“Apa kamu masih sekolah?”, tanyanya kemudian.

“Ya aku masih sekolah tapi hanya privat karena aku tak mampu untuk belajar lama-lama, ayahku juga tidak mengizinkannya. Selama ini aku kesepian, tak punya teman… Hmm.. kamu mau gak jadi temanku, sahabatku, kakak perempuanku atau…”, tanyaku.

“aku mau kok jadi sahabatmu, best friend forever!”, jawab Mawar menyela kalimatku

“Haha Setuju…..”, jawabku.

Suatu hari yang cerah Mawar memberiku kanvas, cat air, dan peralatan lukis lainnya. Mawar menyuruhku untuk melukis wajahnya, dan aku akan melukis wajahku sendiri. Aku benar-benar heran walaupun dia buta, tapi dia elukis dengan sangat baik bahkan lukisannya jauh lebih baik daripada lukisanku. Mawar mengajariku arti kasih sayang, cinta, keikhlasan, kejujuran, pengorbanan, dan keindahan hati, “Ya Tuhan, sungguh mulia hati sahabatku ini. Oh Tuhan, aku berjanji jika aku mati nanti aku akan mendonorkan bola mataku ini untuk Mawar Sahabatku”, doaku dalam hati.

Malam harinya badanku terasa panas dingin menggigil, mati rasa, kepalaku berat  serasa akan pecah. Tangan dan kakiku kaku sekali. Denyut jantungku berdetak sangat cepat. Mawar setia membacakan ayat suci Al-Qur’an di sampingku. Ayah menangis tersedu-sedu, sedangkan suster yang biasanya cuek masa bodoh sepertinya sedikit terharu. Di saat aku merasa ajalku sudah dekat aku berpesan kepada Ayah dan Dr. Frans agar jika aku meninggal nanti aku ingin mendonorkan matku untuk Mawar dan aku juga menitipkan sebuah surat terakhirku untuk Mawar. Dan dapat diberikan kepada mawar saat aku benar-benar menutup mataku untuk selama-lamanya.

Malm ini juga tepat jam 00.00 wib aku menghembuskan nafas terakhirku. Bola mataku kini sah menjadi milik Mawar, setelah pasca operasi Mawar mengunjungiku di Tempat Pemakaman Umum Ia membawakanku Mawar merah yang masih segar. Mawar menangis disampingku, dan aku tersenyum melihatnya. Aku percaya, Mawar tak akan pernah melupakanku untuk selamanya. Karena kita dalah Sahabat.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s