membaca adalah kunci pertama untuk mencapai kesuksesan. do the best!

Perpisahan Termanis

Perpisahan Termanis

by: rafif naufi waskitha hapsari

            Suasana di kelasku sekarang tampak rampai karena ini hari pertama masuk sekolah setelah selama 1 minggu libur. Aku hanya diam mendengarkan temanku asyik menceritakan tentang liburannya, “eh Cilla kamu tauk gak aku tuh kemaren ke bali”, “aku ke jogja”, “aku ke bandung”, “aku belajar masak”, “waktu liburan aku pdkt ma cowok”,” tauk nggak ….., tauk nggak …… aku ke…. bla bla bla”. Jauh dalam hati kecilku aku menyesal kenapa saat liburan aku malah di rumah baca novel, ngerjain peer, menyendiri bahkan hp ku pun tak aktif. Entahlah masih adakah yang peduli denganku atau acuh tak acuh.

Aduuuh maaf sobat, gara-gara aku kebanyakan meluapkan kekecewaanku aku sampai lupa belum kenalan. Hai kawan, namaku Pricilla Ayustine, panggil aja aku Cilla. Aku punya 3 sobat yang selalu ada di saat aku susah, yang paling cerewet Tata dia itu baik, ramah tapi kadang nyebeliin. Kalo Nayomi dia itu pendiam and jutek ma cowok, bodo amat katanya. Yang terakhir Elya paling imuet and gk peduli ma peer hampir gak pernah ngerjain peer walaupun sebenarnya dia pinter.

“Cilla!, are you fine?”,teriak Tata sambil melambaikan tangannya padaku.

“Why? Aku gak papa, ada apa sich?”, tanyaku cuek sambil baca novel.

“Kamu itu gimana sich aku sms kok kamu gak pernah balas, kita kan hari minggu ada les musik kamu malah gak dateng”, balas Tata.

“Maaf aku lupa, kira-kira hari ini ada pelajaran gak?”, tanyaku.

“Ya mana aku tahu, kan aku bukan kepsek tapi temen kamu!”, balas Tata.

“Lho juga Cil yang aneh naya kok sama murid ama guru dong, minimal ketua kelas!”, balas Nayomi.

“Ya tuhan aku mohon semoga gak ada pelajaran amien!”, rengek Nayomi.

Hahaha tawaku meledak setelah mendengar ucapan Nayomi tadi. Hari ini bener-bener indah suasana kelas 2-1 SMA Terpadu yang selalu ramai. Ryan yang selalu maen futsal di kelas, Rivan yang selalu jail ma temen-temen tapi sejail apapun dia, dia tetep baik. Entah mengapa aku selalu membela dia di depan sobat-sobatku walaupun memang Rivan yan salah. Apakah aku? Ya memang dari pertama bertemu aku suka sama Rivan cinta pada pandangan pertama Dan pak ketua kelas yang menyebalkan.

Oh ya aku lupa, di kerajaan kecilku ini aku tinggal bersama seorang raja tampan dan ratu yang sangat cantik, papa dan mama.

“Pagi sayang, mau sarapan pakai nasi goreng apa roti selai?”, tanya mama penuh perhhatian.

“Roti selai aja deh ma, soalnya aku keburu-buru ada piket aku”, jawabku sopan.

“Okelah bisa buat sendiri atau….”,

“Buat sendiri aja deh”, selaku

Aku turun dari mobil dan berjalan menuju kelas dengan pede nya tetapi tiba-tiba. Blah… Nyaliku ciut setelah aku berjalan mendekati Rivan, aku malu, aku sangat deg-degan tetapi aku tetap cuek di depannya. Karena aku memang tak peduli dengan cinta atau apapun itu yang berhubungan atau berbau cinta. “I hate It, Because Love is Destructive”, menurutku.

“Hai!”, sapa Rivan.

“Juga. Napa lu, baik banget tumben biasanya ngerjain mulu”,tanyaku jutek.

“Aku… Aku… Aku…. ma..ma..u tanya ma kamu.. ada peer gak?”,tanya Rivan.

“gak ada!”, jawabku sambil ngeluyur pergi.

Haah, aku sangat senag, nervous, dan ah kacau pikiranku setelah aku disapa Rivan. Pelajaranku sama sekali gak konsen aku terus saja memikirkan Rivan, aku terus meyakinkan diriku bahwa Rivan itu tak suka padaku dan aku harus secepat mungkin melupakannya.

Kriiiiiiing… Kriiiiiiiiiing.. Bel istirahat berbunyi akupun langsung beranjak keluar bersama ketiga sobatku untuk membeli snak ke kantin. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundakku, hah dia Rivan.

“Cilla, maaf aku mengganggu.. kemarin saat liburan aku pergi liburan ke Malang ke rumah pamanku. Aku melihatmu disana”, jelas Rivan.

“Maaf tapi aku sama sekali gak pergi kemana-mana aku tetap berada di Jakarta, tepatnya sih di rumahku. Mungkin kamu slah lihat”, balasku.

“Tidak aku tidak salah lihat, saat kudekati dia mirip sekali denganmu. Tapi dia mengaku kalu namanya Cella bukan Cilla, aku bahkan memotretnya. Lihat ini!”, sambung Rivan sambil menunjukkan hape ny pada Cilla.

“Hah… Dia tampak mirip denganmu Cilla”, jelas Nayomi.

“Ya benar sekali, aku bahkan tak bisa mebedakanmu dengan dia”, sambung Tata.

“Ada. Saat kudekati dia memiliki bekas luka di dahinya sedangkan Cilla tidak. Cilla berambut panjang sedangkan dia Pendek”, terang Rivan kemudian.

“Jangan-jangan dia kembaranmu Cil”, kata Elya.

“Mana mungkin aku punya kembaran. Impossible!”, jawabku sambil menarik tangan Tata, tapi eits.. aku salah menarik yang ku tarik adalah tangan Rivan aku baru sdar setelah Rivan berkata padaku,

“Cilla si nona cantik, maaf kau menarik pergelangan tanganku sangat kuat. Lihat saja pergelangan tanganku mulai memerah!”, jelasnya.

Ah aku sangat malu dan seperti kebiasaanku aku ngeloyor pergi walaupun sebenarnya aku sangat penasaran dengaan semua informasi yang diberikan Rivan padaku. Apakah aku benar-benar mempunyai kembaran? Tapi mengapa mama dan papa tak pernah memberitahuku? Kalau itu semua benar mereka sangat jahat padaku.

Sorry belum slese nich ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s